Masih ingatkah engkau bila aku mengajakmu mendaki bukit di sebalik negeri itu? Aku dan engkau termengah-mengemah mengejar nafas, menahan kelaparan dan mengharungi liku-liku jalan yang penuh cabarannya. Engkau katakan padaku supaya berhenti, tetapi aku membalas dengan senyuman buat bekalan dirimu agar kita dapat meneruskan perjalanan.
Kenikmatan ada di permukaan, kesabaran itulah satu kedalaman. Syukurlah untuk hari ini dan tawakal lah untuk hari esok.
Seharian kita mendaki, kita berehat di bawah satu pohon yang ada padanya rimbunan buah-buahan yang dapat kita nikmati malam itu. Maka aku berkata, "Kenikmatan ada di permukaan, kesabaran itulah satu kedalaman. Syukurlah untuk hari ini dan tawakal lah untuk hari esok."
Aku dan engkau sambung pendakian esok hingga kita tiba di puncaknya. Engkau menghela nafas lega penuh syukur. Sungguh pemandangannya berbaloi. Terbit bibit senyuman di wajah aku dan engkau.
Bukankah sudah aku katakan, kesabaran itu puncak kejayaan, kesabaran itu juga adalah sebalik kemenangan dan kesabaran itu juga hukum ketenangan. Aku puas, engkau juga puas.
Kata kunci ku pada hari ini: Kesabaran adalah puncak. Puncak lah paling hampir dengan pangkal. Maka bersabarlah.





1 komen:
Salam, benarkah 2020 hanya milik juara?
Catat Ulasan