Di satu bangunku, aku disapa jiwaku, ia berkata, "aku merindu, pantangku untuk menghampiri meskipun aku dan dia sering berbicara berkongsi rasa. Aku ditekan batas kelilingku yang tidak ubah seperti penjara."
sungguh apakah aku mahu melihat engkau yang juga aku ini bersedih duka. Lebih mulia aku menikam diriku dari melukakan perasaanmu. Aku sendiri bertempur di medan perang adatnya. Ingin juga aku membutakan matanya agar ia tidak melihat cacatku, ingin juga aku pekakkan telinganya agar ia tidak diracuni bisikan manusia dikanannya dan pastinya ingin juga aku bisu kan tuturnya agar ia tidak mudah menyakiti hatiku.
"Pada satu ketika, mereka bercerita kisah aku dan dia. Di bibir terlafaz syurga dan di sebalik fitrahnya yang lembut, tersimpan satu rasa yang keras membatu. Apabila aku hadir sebagai air, begitu mudah aku menghanyutkannya. Jika aku hadir sebaliknya, ia teguh mempertahankan dirinya."
Aku tersenyum mendengar bicara jiwaku. Aku jua sering merasa sunyi seorang diri. Aku dan dia ibarat dua adat. Asal dari tempat yang sama tetapi bicaraku bersama kanan dan kiri ku hanya di kala salah satunya mati bersemadi. Diriku pastinya adalah teramat penting dan istimewa bagiku. Dia pula lahirnya di sebalik kanan dan kirinya saling membunuh apa jua citanya. Cita-citanya mati dan semuanya serba tidak menjadi. Maka ia berpegang teguh pada hukum resam sejak sekian lamanya. Aku dipandang pembawa bencana seranah kerana aku tidak sarungkan tangkal dipagar jampi.
Jiwa aku menangis, "Luarnya engkau saling bertengkar tetapi apakah pernah sekali engkau kenangkan apabila aku meniduri jiwanya? Apakah tidak engkau rasakan tiupan angin menyanyikan lagu-lagu aku dan dia? Pada malamnya tidak dapat aku gambarkan suka ku dan engkau hadirkan pula duka ku di siang hari."
Aku tersentak, maka aku katakan pada jiwaku, "sungguh apakah aku mahu melihat engkau yang juga aku ini bersedih duka. Lebih mulia aku menikam diriku dari melukakan perasaanmu. Aku sendiri bertempur di medan perang adatnya. Ingin juga aku membutakan matanya agar ia tidak melihat cacatku, ingin juga aku pekakkan telinganya agar ia tidak diracuni bisikan manusia dikanannya dan pastinya ingin juga aku bisu kan tuturnya agar ia tidak mudah menyakiti hatiku."
"Pahitnya ubat dibenci setiap yang merasainya. Tetapi itulah penghidupan berakal yang sering memilih untuk terus lemas."
"Janjiku padamu hanya doa agar engkau bahagia. Aku masih jua berusaha dan pastinya gantunganku masih jua pada Sang Pencipta."
Sesungguhnya aku jua masih rindukan dia.